Rutinitas Perawatan Kulit ala Fanny

Artikel ini ditulis sesuai permintaan Dian, yang merasa kalau topik ini penting untuk kami bahas karena masing-masing dari kami punya tipe kulit berbeda.

Kulit saya mungkin adalah yang paling buruk kondisinya di antara kami bertiga. Selama masa remaja, saya bergulat dengan masalah jerawat hormonal. Mama lalu merujuk saya ke seorang dermatolog, dan selama bertahun-tahun kemudian masalah kulit saya pun mereda. Namun, saat saya mulai bekerja dan menikah, kondisi kulit saya kembali memburuk. Jerawat saya akan meradang setiap saya dilanda stres. Saya lalu berganti-ganti dermatolog, hingga akhirnya memutuskan berhenti dan meneliti bagaimana caranya merawat sendiri kulit saya.

Singkat cerita, setelah beberapa kali percobaan yang berhasil maupun gagal, saya tersadar bahwa kulit saya tidak bereaksi baik terhadap krim. Masalahnya, jika tidak dhidrasi, jerawat saya akan muncul. Kulit saya memerlukan takaran hidrasi yang tepat—tidak terlalu banyak maupun sedikit—dan juga tidak toleran terhadap alkohol maupun pengering. Ribet!

Jerawat hormonal saya masih kerap muncul saat saya sedang datang bulan atau mengonsumsi terlalu banyak gula. Umumnya, kalau sudah menginjak usia 40, jerawat akan hilang dan digantikan keriput. Saya termasuk golongan minoritas yang masih hidup dengan jerawat, walau kini mereka sudah jauh lebih jinak.

Nah, setelah mengetahui kondisi kulit saya, mari kita simak rutinitas perawatan kulit saya.

Pagi:

Bilas
Skin Dewi Raspberry hydrating cleansing milk

Tone/Hidrasi
Kalau tidak sedang buru-buru, saya memakai Skin Dewi Calming Dew Rose Toner dengan kain kapas. Namun, kebanyakan saya memakai Mugwort Essence dari Im From.

Perawatan
Niacinamide Serum dari The Ordinary (kadang saya pakai merek lain seperti Somethinc)

Pelembab
Skin Dewi Tamanu Green Serum (daripada serum, lebih tepat kalau ini disebut face oil). Saya mencampurkan 6-8 tetes dengan air kamomil Altheya atau air termal La Roche Posay di telapak saya, sebelum diusapkan ke muka..

Perlindungan
Tabir surya dari La Roche Posay Anthelios 50+ (Ini dulu favorit saya, yang akhirnya saya pakai lagi setelah lama setia dengan tabir surya kasat mata Supergoop). Saya memutuskan kembali ke LRP yang merupakan tabir surya fisik/mineral, karena saya mau berhenti memakai tabir surya kimia.

Malam:

Bilas Dua Kali
Skin Dewi Bamboo cleansing oil
Skin Dewi Raspberry hydrating cleansing milk

Tone dan Hidrasi
Skin Dewi calming dew rose toner dengan kain kapas
Mugwort Essence dari Im From

Perawatan
Sunday Riley Pink drink (firming resurfacing essence)
Sunday Riley A+ high dose retinoid serum ((setiap 4 minggu sekali, saya berhenti memakai ini selama beberapa hari dan menggantinya dengan Lactic Acid dan BHA dari Avoskin Avoskin yang saya pakai 3x/seminggu)

Pelembap
Skin Dewi Seabuckthorn reviving elixir.  Saya mencampurkan 6-8 tetes dengan air kamomil Alteya atau air termal La Roche Posay di telapak saya, sebelum diusapkan ke muka..

Perawatan Lainnya

Di akhir pekan, saya sebisa mungkin memakai masker wajah, yang saya gonta-ganti sesuai kondisi hati. Masker saya saat ini adalah French green Clay/Rhassoul Clay, Gel mask dari Sensatia, dan sejumlah masker lembaran dari Korea.

Setelah umur 40, saya memutuskan ini saatnya lebih agresif dengan perawatan kulit. Jadi, saya pun mencoba laser Picosure dan PRP Dermapen. Saya suka hasil dari PRP Dermapen, yang juga lebih murah dibanding laser Vs Picosure. Namun, laser ini butuh waktu istirahat 4-5 hari, yang seringkali menyulitkan bagi saya. Walaupun lebih mahal, laser Picosure punya kelebihan berupa hampir tidak ada waktu istirahat. Warna merahnya hilang setelah beberapa jam, dan tidak ada rasa sakit setelah perawatan. Baru-baru ini, saya juga mencoba Thermage karena sedang diskon di klinik langganan saya dan saya merasa butuh asupan kolagen. Thermage mungkin terkesan tidak perlu-perlu amat, tetapi kalau sudah berumur 40-an seperti saya, akan terlihat perbedaannya begitu sudah dicoba.

Tinggalkan Balasan