Rekomendasi Film Kencan & Diskusi Makan: Mendadak Darurat

Saya sudah memutuskan bahwa sebagai bagian dari nasionalisme dan kecintaan saya kepada Indonesia, saya akan mulai lebih banyak menonton film Indonesia. Saya yakin saya akan terhibur, asal bukan film horor (nyali saya kecil kalau sudah horor). Jadi, kemarin saya nonton Mendadak Darurat, awalnya murni karena saya suka Reza Rahadian. Saya menikmati aktingnya di banyak film, walau dari segi cerita biasanya agak klise.

Kali ini, rasanya tak jauh beda. Cerita di Mendadak Darurat berkisar pada seorang lelaki yang menikahi kekasihnya sejak masa kuliah dan sepertinya lebih tua darinya (mengingat bahwa mereka bertemu di masa orientasi, saat dia masih mahasiswa baru sedangkan kekasihnya anggota panitia). Hubungan mereka kemudian mulai merenggang, sering bertengkar, dan sang istri semakin berusaha mengontrol sementara sang suami tergoda selingkuh. Karena godaan tersebut, sang suami berbohong bahwa ia akan pergi dinas naik pesawat ke luar Jakarta, padahal sebenarnya ia berencana menginap di hotel bersama seorang perempuan. Namun, pesawat kemudian jatuh dan semua penumpang meninggal, dengan nama si suami di daftar korban. Komedinya seputar bagaimana sang suami berusaha menyelesaikan keruwetan masalah ini, lengkap dengan berbagai kejutan di tengah-tengah. Saya merasa ini seperti black comedy yang terinspirasi kisah nyata. Raza Rahadian dan Luna Maya, serta Marissa Anita dan Pandji Pragiwaksono, hadir sebagai para pemeran utama. Asri Welas, Tamara Geraldine, Dewi Irawan, dan Ivanka Suwandhi tampil sebagai pemeran pendukung, Cecep Arif Rahman muncul sebagai kameo, sedangkan sutradaranya adalah Panji Pragiwaksono.

Ini komedi ringan, tapi ciri khas komedi ala Panji tetap terasa: cerdas sekaligus lucu. Reza memainkan tokoh utama, Glenn, sebagai anak mama yang penggugup, pasif, dan kreatif, serta bekerja di industri kreatif. Maya berperan sebagai Kania, perempuan asertif yang sangat kompeten dalam pekerjaannya sebagai account manager, dan diam-diam naksir dengan Glenn. Marissa Anita berperan sebagai Maya, istri Glenn, tipikal perempuan asertif, tangguh, dan independen yang sukses dalam kariernya. Sahabat sekantor Glenn, Yahya, diperankan Panji Pragiwaksono. Maya juga punya 3 sahabat dengan cerita yang menarik walau tipikal; yang satu lajang, satunya lagi sudah cerai karena suaminya selingkuh, dan yang terakhir istri yang selalu mendukung suaminya termasuk dengan terbuka pada poligami. Tensi saat Kania dan Glenn kencan di hotel dalam waktu yang bertepatan dengan jatuhnya pesawat, berusaha meluruskan keruwetan, dan berinteraksi dengan Yahya, ibu Glenn, dan lain-lain menjadi sumber konflik utama kisahnya.

Walaupun banyak karakter dan dialognya yang masih klise, eksekusinya cukup baik dan emosional, walaupun ada beberapa bagian yang lemah. Saya teringat pada suatu kutipan yang mengatakan bahwa kesempurnaan dicapai dengan melakukan yang biasa secara luar biasa; seperti itulah filmnya. Reza, Luna, Marissa, dan Panji memainkan peran masing-masing dengan baik. Ini bukan film yang gelap maupun berat, jadi akting cukup untuk menghibur saja, dan bagi saya ini tidak mengecewakan. Marissa berperan paling baik dan tersirat, sedangkan Reza seperti biasa memainkan perannya dengan gegap gempita dan tetap menghibur. Pendekatan yang berbeda tersebut membuat filmnya berjalan efektif, dengan adanya momen komedi maupun emosional. Luna juga memberikan upaya terbaik dengan menampilkan seorang perempuan yang jatuh cinta pada laki-laki yang salah, dan berusaha keluar dari situ secara apik. Luna tahu kelebihan dirinya, dan memanfaatkannya dengan baik dalam film ini. Para pemeran pendukung juga membuat kisah karakter mereka makin hidup dan berkontribusi terhadap keberhasilan film. Chemistry antara Tamara Geraldine dan Asri Welas sebagai ibu Glenn terasa bagus bagi saya. Mereka juga menampilkan momen komedi yang membuat filmnya kian berkesan.

Ini film ringan nan menghibur yang bisa membuat kita tertawa, dan jadi bahan diskusi saat makan malam setelahnya (atau saat di bar) tentang cinta dan pernikahan dengan sahabat kita (atau sebagai pilihan film kencan dengan pasangan—tapi hati-hati jangan terpancing jadi ribut, haha).

Tinggalkan Balasan