Jangan Lewatkan Film Lintas Genre Ini, Jagat Arwah

Orang-orang terdekat saya awalnya ragu untuk nonton Jagat Arwah bersama saya. Ini bukan genre yang biasanya kami suka, dan kami juga kurang tahu tentang para pemeran utamanya (kalau sebelumnya tidak nonton Mencuri Raden Saleh, saya tidak akan kenal dengan Ari Irham). Kami akhirnya nonton di Plaza Senayan, malam Minggu larut. Dengan kata lain: niat banget. Ini bsia dibilang momen bersejarah bagi saya, karena pertama kalinya saya nonton film berbau horor sejak Jaelangkung lebih dari 20 tahun lalu (sebelumnya lagi, Beranak Dalam Kubur, 20 tahun sebelum Jaelangkung). Singkatnya, ada siklus dua dekade saya nonton horor, jadi filmnya harus super spesial. Buat saya, film ini jelas demikian karena sudah berhasil mengalahkan ketakutan saya nonton film horor, yang hanya terjadi setiap dua dekade. Mengingat siklus berikutnya adalah saat saya berumur 70 dan entah apakah jantung masih kuat, mungkin inilah film horor terakhir dalam hidup saya.

Konsep ceritanya inovatif dan khas dengan Indonesia (salut untuk Mike Wiluan). Untuk memperkenalkan konsep yang kompleks ini tergolong sulit, apalagi dalam durasi singkat. Ini mengingatkan saya kepada betapa susahnya memperkenalkan Lord of The Rings atau Harry Potter, yang butuh lebih dari dua film panjang untuk mencakup sampai 60% dari keseluruhan ceritanya. Jagat berupaya memperkenalkan konsep ceritanya yang kompleks dalam hanya 10 menit. Entah kenapa, saya teringat pada bagaimana Marvel memperkenalkan konsep batu Infinity; agak terburu-buru, tapi masih oke dengan adanya bagian yang disimpan untuk belakangan.

Ceritanya tentang seorang pemuda bernama Raga, keturunan langsung dari Aditya—pelindung alam semesta dalam bahasa Jawa. Ia adalah keturunan ke-8, yang diramalkan lebih kuat lagi daripada ayahnya sebagai keturunan ke-7, Sukmo. Raga melepas mimpinya untuk menjadi pemusik sukses agar bisa mengasah ilmu di bawah bimbingan pamannya, untuk menjaga keseimbangan dunia. Ia punya beberapa pelindung: Nonik (hantu Belanda dengan kekuatan penyembuh), Genderuwo (hantu yang juga berperan sebagai bodyguard), dan Kunti (hantu dengan kekuatan khusus dan kisah asmara). Ari Irham memainkan Raga, Sheila Dara sebagai Kunti, Cinta Laura memainkan Nonik, Genderuwo diperankan Ganindra Bimo, dan Oka Antara memerankan paman Raga. Sutradaranya adalah Ruben Adrian, dan diproduksi oleh Visinema.

Film ini menggabungkan beberapa genre seperti fantasi dan laga dengan begitu apik sehingga terlihat meyakinkan. Ari Irham mendalami karakter Raga dengan baik, sehingga terlihat cocok memerankan tokoh ini. Ada kemungkinan untuk mengembangkan tokoh ini lebih lanjut jika ada sekuel, sama halnya dengan bagaimana Johnny Depp mengembangkan tokoh Captain Jack menjadi lebih kaya dan multidimensi melalui beberapa sekuel yang penuh ujian dan percobaan. Untuk awal seri saja, ini sudah lumayan. Akting Ganindra Bimo juga patut dipuji, karena kemampuannya menampilkan sosok Genderuwo yang bisa membuat saya tertawa sekaligus meringis. Interaksi Ari dan Sheila juga menyentuh, dengan akting emosional yang baik dari Sheila. Terakhir, CInta Laura berperan bagus sebagai Nonik, seolah memang karakter itu khusus dibuat untuknya. Dari semua adegan, saya paling suka momen aksi supernaturalnya karena benar-benar menghidupkan ceritanya.

Film ini jelas menghibur, sarat adegan seru dan seram. Jelas patut ditonton, dan saya harap akan ada sekuel untuk makin mengangkat ceritanya. Salut untuk Visinema, yang membawakan film ini segera setelah Mencuri Raden Saleh (yang masih berkesan sampai sekarang buat saya).

Kesimpulan: Wajib ditonton. Buat yang biasanya enggan nonton tipikal film horor Indonesia, ini bisa jadi perkecualian.

Tinggalkan Balasan