Tips Jika Kita/Anggota Keluarga Terinfeksi Covid Saat Liburan

Awalnya saya ragu apakah masih relevan menulis tentang ini, karena mungkin dalam beberapa bulan Covid akan lenyap dan topik ini akan basi. Namun, itu hanya angan-angan—kenyataannya, kita sudah berperang melawan virus yang sama selama 2,5 bulan dan varian baru terus muncul. Walaupun kita sudah lebih siap dan berpengalaman, virusnya juga sudah berevolusi untuk terus ada.

Keluarga saya adalah salah satu dari sedikit yang tidak terkena Covid (paling tidak sampai liburan kami pada Juni) sejak insiden pertama pada Maret 2020, karena kami semua super disiplin menerapkan protokol kesehatan. Saya bisa dibilang hampir obsesif menumpuk semua perangkat kesehatan untuk memastikan kami sepenuhnya siap saat virus datang. Saya terus heran saat masih saja ada orang yang kaget saat terinfeksi dan tidak tahu harus apa. Beberapa orang bahkan tidak punya oximeter, sedangkan saya punya 2 untuk jaga-jaga.

Daftar apa saja yang saya siapkan di rumah, supaya paham kenapa saya menyebut diri sendiri hampir obsesif:

-Masker (dalam boks dengan berbagai ukuran)

-Oximeter

Oxygen Concentrator personal grade

-Semprotan tenggorokan dan hidung

-2 set perangkat APD sekali pakai

-Perangkat tes antigen mandiri (Nasofaring dan Nasal)

-Obat-obatan (paracetamol)

-Vitamin C 500mg dan Vit D 5000 IU

-Suplemen seperti Young Living Ning Xia dan SOP Subarashi

-Melengkapi semua kamar dalam rumah dengan Penyaring Udara, saya bahkan bahwa penyaring udara sendiri ke kantor

-Melengkapi mobil dengan penyaring udara

-Penyaring Udara Portabel (saya merekomendasikan Bmola)

-Semua EO utama dari Young Living: Thieves, Raven, Eucalyptus, dan RC

Hand Sanitizer dan isi ulangnya (saya punya paling tidak 2 botol isi ulang berukuran 1L)

Kini, saya yakin semua orang sudah tahu apa yang harus dilakukan jika terkena Covid. Namun, bagaimana kalau kejadiannya saat liburan atau perjalanan? Kabar baiknya – Covid sudah bermutasi ribuan kali, dan versi terkini sudah lebih jinak dan tidak mengancam nyawa bagi mayoritas populasi yang sudah divaksin dan tidak memiliki komorbiditas. Banyak negara di dunia yang sudah beradaptasi dengan realita baru: kantor dan sekolah sudah buka, perbatasan juga dibuka dan pariwisata kembali dimulai, tidak ada persyaratan tes PCR atau Antigen lagi, dan mayoritas negara tidak mensyaratkan wajib pakai masker.

Jadi, Harus Bagamana?

Di sini, saya akan membahas pengalaman pribadi saya saat anak laki-laki saya terkena Covid selama liburan kami di Prancis dan Prancis Selatan. Saya berbagi soal ini supaya tidak ada salah paham bahwa tidak ada risiko terkena Covid hanya karena masker tidak lagi wajib. Saya memang sangat mendukung bahwa hidup harus kembali normal, supaya kita bisa bebas bepergian lagi. Namun, kita harus paham risikonya dan bagaimana menanganinya. Dengan kata lain, siapkan Rencana B saat yang tidak diinginkan terjadi.

Pertama-tama, mari mulai dari yang terpenting. Pastikan semua anggota keluarga yang bepergian sudah divaksin, termasuk dengan booster. Jangan pikir dulu mau ke mana-mana jika belum divaksin tiga kali. Ketahui gejalanya dan terus pantau berita varian baru. Jangan bersikap delusional dengan mengatakan bahwa demam pasti karena kelelahan, atau bahwa itu hanya pilek biasa karena masih bisa mencium dan mengecap makanan serta tidak ada masalah bernapas. Varian Covid baru memiliki gejala serupa dengan pilek dan influenza biasa, tergantung pada imunitas tiap orang. Saat Covid kembali naik dan kita merasa tidak enak badan, hal pertama yang patut dicurigai adalah infeksi Covid. Dengan mendeteksinya dari dini, kita dapat mencegah virus itu menyebar ke anggota keluarga dan orang-orang di sekitar kita.

  1. Pertama-tama, mari mulai dari yang terpenting. Pastikan semua anggota keluarga yang bepergian sudah divaksin, termasuk dengan booster. Jangan pikir dulu mau ke mana-mana jika belum divaksin tiga kali.
  2. Kenali gejalanya dan terus pantau berita varian baru. Jangan bersikap delusional dengan mengatakan bahwa demam pasti karena kelelahan, atau bahwa itu hanya pilek biasa karena masih bisa mencium dan mengecap makanan serta tidak ada masalah bernapas. Varian Covid baru memiliki gejala serupa dengan pilek dan influenza biasa, tergantung pada imunitas tiap orang. Saat Covid kembali naik dan kita merasa tidak enak badan, hal pertama yang patut dicurigai adalah infeksi Covid. Dengan mendeteksinya dari dini, kita dapat mencegah virus itu menyebar ke anggota keluarga dan orang-orang di sekitar kita.
  3. Saat ada yang merasa tidak enak badan, perlakukan dia seolah dia pasien Covid. Semua orang harus pakai masker, dan isolasi orangnya di kamar terpisah.
  4. Ambil tes.
  5. Tenangkan pikiran – tarik napas dalam-dalam dan hembuskan.
  6. Redakan gejalanya. Paracetamol untuk demam dan sakit kepala. Sirup untuk batuk, semprotan tenggorokan, semprotan hidung, dan obat anti peradangan bisa didapat dari apotek. Konsumsi Vitamin C 1000mg dan Vitamin D 5000 IU. Anggota keluarga lainnya juga sebaiknya mengonsumsi Vitamin C dan D, karena mereka kini terekspos terhadap virus.
  7. Selalu pakai masker dan jaga kebersihan (cuci tangan dan disinfektasi semua yang tersentuh).
  8. Isolasi pasien Covid dalam kamar dan pastikan sirkulasi udara yang cukup di kamar dan rumah.
  9. Kalau sudah terlanjur pesan tempat inap seperti kami, kadang tidak mungkin untuk bisa mengisolasi yang sakit. Anak saya demam pada malam terakhir kami di Paris, saat kami bertiga menginap di kamar hotel. Kami bertiga harus memakai masker dan saya pun menyalakan Penyaring Udara portabel merek Bmola. Saya pastikan untuk disinfektan semua yang disentuh anak saya, termasuk kamar mandi. Kami juga bergantian makan, karena makan berarti harus lepas masker. Keesokan harinya, kami pindah ke tempat menginap lainnya di Menton. Tempatnya berupa kamar studio apartemen, tetapi paling tidak ranjangnya terpisah cukup jauh dan jendelanya bisa dibuka. Anak saya tidur di ranjang terdekat dengan jendela, yang kami buka untuk memastikan sirkulasi udara yang cukup. Kami pun tetap menjaga protokol dengan ketat; disinfektan semuanya, selalu cuci tangan, dan makan bergantian. Anak perempuan saya dan saya sendiri tidak mengalami gejala, jadi siangnya kami jalan-jalan sesuai rencana. Hal ini membantu mengurangi eksposur kami terhadap virus. Protokol ketat selalu dijaga, dengan selalu memakai masker di dalam ruangan dan menjaga kebersihan tangan.
  10. Ikuti CDC Guideline atau protokol kesehatan negara bersangkutan
    Saat seseorang dites positif.
    – Tinggal di rumah selama 5 hari
    – Jika tidak ada gejala atau gejala hilang setelah 5 hari, boleh keluar dari rumah
    – Tetap pakai masker saat bersama orang lain selama 5 hari berikutnya.
    Jika terekspos virus tapi sudah divaksin
    – Pakai masker di sekitar orang-orang selama 10 hari.
    – Tes pada hari ke-5, jika memungkinkan.
    – Kalau mengalami gejala, ambil tes dan tinggal di rumah
    Hasil tes antigen anak laki-laki saya berubah negatif pada hari ke-7. Anak perempuan saya dan saya sendiri juga dites, dan kami negatif. Anak laki-laki saya tetap pakai masker karena batuknya tidak hilang-hilang (akhirnya sampai 3 minggu baru batuknya hilang).

TIPS apa yang harus dibawa saat Liburan

  1. Perangkat uji mandiri Antigen. Kita tidak pernah tahu seberapa mudah dites di negara lain, dan harganya juga mahal. Orang Indonesia sebenarnya beruntung karena banyak tempat tes di sekitar Jakarta.Tes Antigen hanya seharga €6, sedangkan PCR seharga  €17, di Jakarta. Saat kami ke Prancis, harga tes Antigen berkisar dari €25 hingga €30 dan harus di apotek. Turis tidak bisa membeli perangkat tes mandiri. Di negara Eropa Utara seperti Norwegia, harga tes antigen bahkan mencapai €51 atau 500 NOK. Perangkat tes saya didapat dari Abbot, untuk nasofaring dan nasal. Versi nasofaring disebut-sebut lebih akurat, tapi harus diselipkan dalam-dalam ke hidung dan sulit dipakai untuk anak-anak. Untuk anak perempuan saya, saya pakai versi nasal, yang hanya perlu diselipkan sampai 2 cm ke salah satu lubang hidung.
  2. Vitamin, khususnya vitamin D dan beberapa suplemen makanan (saya pribadi suka Young Living Ning Xia dan SOP Subarashi). Paracetamol dan Vitamin C gampang didapatkan, tapi tidak demikian dengan Vitamin D. Saat kami di Prancis, stok Vitamin D mereka hanya 500IU.
  3. Semprotan Tenggorokan (Betadine Spray) dan Semprotan Tenggorokan Hidung (Sterimar)
  4. Masker Ekstra. Masker di Eropa mahal dan sangat simpel. Sementara di negara Asia masker sudah berevolusi jadi tren mode lengkap dengan rantai masker, negara Eropa masih memakai masker operasi standar.
  5. Belilah Penyaring Udara portabel yang bagus (saya pribadi pakai Bmola). Ini sangat praktis bagi kami saat dalam pesawat, dalam kereta, dan untuk meningkatkan sirkulasi udara dalam ruangan.
  6. Hand Sanitizer. Bisa dibeli di mana saja, tetapi kalau punya tangan kering seperti saya, lebih baik bawa sendiri. Saya paling suka Utama Spice Hand Sanitizer.
  7. Semprotan Disinfektan, seperti SOS, Dettol, Lysol dll.
  8. Essential Oil. Bisa diusapkan di telapak kaki, diteteskan di bantal, diencerkan dengan carrier oil dan diusapkan di dada dan punggung, atau cukup dihirup. EO favorit saya untuk bepergian adalah Thieves, Eucalyptus, Lavender, Digize, Panaway, dan Peppermint. Saya menuliskan artikel tentang itu di sini.

Semoga ini membantu, dan walaupun kita terus berharap Covid akan lenyap dari planet ini, sepertinya mereka akan tetap ada dalam bentuk yang mudah-mudahan lebih jinak. Jadi, kita harus terus beradaptasi.

Tinggalkan Balasan