Sindrom Supermom: Gejala yang Patut Diwaspadai


Selama masa hibernasi ini, saya mulai menyadari bahwa jadi ibu rumah tangga itu tidak semudah kelihatannya. Setelah berpengalaman lebih dari 15 tahun sebagai wanita karier, saya kadang kesulitan menangani urusan di rumah. Tulisan ini bukan bermaksud membandingkan mana yang lebih baik, antara jadi ibu rumah tangga atau wanita karier. Namun, karena saya sudah mengalami keduanya, saya akan berbagi hal-hal yang mungkin belum diketahui; apalagi jika Anda berniat beralih dari ibu yang bekerja menjadi ibu rumah tangga.

Parenting 24/7 itu hanya mitos

Ignorance is a bliss; dengan tidak tahu, jadi lebih bahagia. Menjadi orang tua yang tinggal di rumah berarti kita menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak, dan menyadari hal-hal yang kita lewatkan sebelumnya. Karena kita sudah memutuskan meninggalkan kerja kantoran dan tangga karier, kita mulai mengalami gejala awal sindrom supermom dengan berusaha memperbaiki segalanya. Faktanya, semakin banyak yang kita ketahui, kita akan semakin kewalahan. Semakin kita ‘perfeksionis’, kita akan tambah stress berupaya menjadi supermom. Jadi, ingatlah bahwa parenting 24/7 itu hanya mitos; kita hanya manusia dengan segala keterbatasannya. Upayakan yang terbaik saja.

Multitasking itu wajib

Sistem pendidikan kita tidak mengajarkan bagaimana caranya menjadi orangtua. Kebanyakan dari kita belajar jadi orangtua hanya dari orangtua kita dan melakukannya sendiri. Beberapa di antara kita punya insting keibuan yang kuat, dan bagi mereka itu sudah cukup. Namun, apa pun itu, multitasking wajib hukumnya bagi ibu rumah tangga. Kita harus siap jadi koki, supir, guru, manajer finansial, pemasaran, dokter, dokter gigi, dll. Atau bersiaplah melakukan hal yang tidak bisa diprediksi, seperti harus mencabut gigi bayi di tengah malam, atau membantu anak membacakan tugas pidatonya sehari sebelum tenggat waktu. Ini sindrom supermom lainnya. Kuncinya adalah tetap positif dan lakukan sebisa kita.

Susun agenda sosial dengan cermat

Karena lebih banyak waktu di rumah, kita jadi makin menyadari lebih banyak agenda sosial yang ada; RT, komunitas sekolah, kerabat, teman sekolah lama, dll. TETAP FOKUS! Susunlah agenda sosial dengan hati-hati. Tidak usah sok jadi sosialita. Saya sudah sering lihat banyak ibu rumah tangga yang terlalu sibuk dengan agenda sosial mereka, sehingga malah kekurangan waktu untuk anak dan keluarga. Postingan keren di media sosial kadang menggoda dan menimbulkan rasa senang, tapi ingat alasan utama kita memilih jadi ibu rumah tangga. Kita harus selektif dalam memilih agenda sosial. Saya menyarankan kumpul-kumpul tidak lebih dari 3 kali seminggu, dan dengan lingkar sosial yang membantu kita tumbuh jadi orang yang lebih baik.

Tantangan sistem pendukung

Menjadi ibu rumah tangga berarti menyeimbangkan berbagai hal sekaligus tiap harinya. Jam kerja sudah dimulai dari saat membuka mata di pagi hari hingga menutupnya di malam hari. Sistem pendukung seperti pembantu, supir, guru privat, dl., dapat membantu meringankan sebagian beban, tetapi dewasa ini makin banyak tantangan yang terkait dengannya. Sudah sering terjadi sekarang kita bisa ganti pembantu hingga 3 kali tiap tahunnya. Apalagi kalau punya anak kecil di rumah, sepertinya banyak pembantu yang menghindari situasi ini. Tips: selalu siapkan Rencana B, misalnya dengan punya nomor kontak jasa laundry untuk mengangkut cucian kotor.

Siapkan diri untuk tidak dihargai, tapi jangan lupa untuk membahagiakan diri sendiri

Mayoritas orang mengatakan bahwa orangtua yang tinggal di rumah harus dihargai setara dengan yang bekerja, tetapi setelah menjalani keduanya, saya bisa bilang itu hanya pepesan kosong. Kenyataannya, orang akan lebih menghargai yang punya karier. Dengan menjadi Ibu Rumah Tangga, kita harus siap untuk tidak dihargai. Ingat saja bahwa semua orang punya pilihan bagaimana caranya menghabiskan hidup mereka, dan bahwa waktu itu berharga. Jadi, usahakan untuk tidak menyesali pilihan dan bahagia dengannya.

JANGAN LUPA UNTUK MEMBAHAGIAKAN DIRI SENDIRI, ini wajib supaya tetap bahagia dan positif. Kita sering berupaya jadi supermom, yang ujungnya hanya membuat jenuh dan depresi. Bersenang-senang untuk menyegarkan diri dan isi ulang kebahagiaan kita itu wajib. Kumpul-kumpul, olahraga bersama teman, dan belanja adalah beberapa contohnya. Terakhir, jangan takut bahagia, seperti apa pun tipe ibu yang kita pilih… kita akan selalu jadi Supermom bagi orang-orang tercinta! Cheers ❤️ ❤️

Tinggalkan Balasan