Black Adam – Film Justice Society Lainnya

Saya harus mengakui bahwa saya pecinta semua film super hero. Saya termotivasi oleh temanya, yang menunjukkan sisi terbaik dari manusia dan mengingatkan bahwa kalau kita berjuang keras dalam hidup, kita dapat menjadi versi terbaik diri kita dan kadang bahkan melampaui imajinasi.

Saya suka tema kekuatan super, begitu pun dengan The Rock. Saya nonton dia di seri Jumanji, Tooth Fairy, Red Notice, dan lain-lain. Saya suka gaya komedinya dan badannya yang ala super hero. Saya juga berminat pada sejarah dan mitologi dan zaman dulu. Jadi, saya pikir saya akan menikmati Black Adam.

Saya lupa bahwa film Justice Society diwarnai nuansa noir dengan kesuraman pada hampir tiap adegan. Saya rasa, mungkin ini perlu untuk membedakannya dengan franchise Marvel. Jadi, harus bernuansa lebih dewasa. Black Adam menampilkan The Rock yang nyaris tak tersenyum sama sekali. Ia tampil murung sepanjang waktu, yang terasa agak aneh bagi saya. Figurnya sebagai super hero pemurung dan ringan tangan melakukan kekerasan agak sulit untuk bisa saya terima.

Namun, mari kita bahas ceritanya dulu. Kisahnya dimulai di Kahndaq (Baghdad?), di mana seorang pria bernama Teth Adam dianugerahi kekuatan super oleh Dewa. Sayangnya, ia menggunakan (atau menyalahgunakan) kekuatan itu untuk balas dendam pada 5000 tahun lalu, dan kemudian dihukum penjara. Lima ribu tahun kemudian, ia bebas dan terlibat dalam gerakan liberasi Kahndaq dari sindikat kriminal Intergang yang menguasai Kahndaq. Gerakan liberasi itu dipimpin oleh Isis (Sarah Shahi). Lalu, Justice Society kemudian terlibat, dengan munculnya Hawkman (Aldis Hodge), Dr Fate (Pierce Brosnan), Atom Smasher (Noel Centineo), dan Cyclone (Quintessa Swindell).

Ada cukup banyak lika-liku yang membuat fillmnya menarik dan seru, walaupun masih memakai formula seperti pengkhianatan dari orang terdekat, momen keraguan sang super hero, kelemahan tipikal super hero, dan adegan kemunculan yang megah. Namun, yang membuatnya menarik adalah interaksi antar karakter, dengan sedikit humor untuk mengimbangi The Rock yang tanpa humor. Noel Centineo berusaha membawakan adegan-adegan ringan sebaik mungkin; ia masih perlu belajar lagi, tetapi ujungnya saya jadi suka kecanggungannya pada momen komedi. Sementara itu, interaksi Aldis Hodge dengan The Rock cukup menghibur dan bisa dinikmati. Quintessa tidak banyak berakting, tetapi mengingat ini awal kemunculannya, mungkin ia akan dapat peran lebih besar di film DC lainnya; begitu pun dengan Noel, yang saya harap akan jadi lebih kuat di film berikutnya.

Musik, latar, dan adegan pertarungannya terasa standar film aksi Barat buat saya, tetapi bukan berarti tidak menarik bagi yang memang menyukai jenis film seperti ini. Mungkin tidak akan sampai ditonton berkali-kali, tapi cukuplah untuk ditonton sekali bersama teman.

Kesimpulan: Tonton sekali sudah cukup.

Tinggalkan Balasan